Kamis, 07 Agustus 2008

'Mahasiswa' Agen Perubahan

Rumah, buku, Paper, Makalah, Tugas, SKS, Final Test, Organisasi, BEM, LEMA, Demonstrasi, Bakar ban, Beasiswa, Error, PA, ..........semua kata itu terasa begitu akrab di kepala setiap mahasiswa yang tengah beraktualisasi di dunia kampus. Betapa tidak, hampir setiap hari mereka berkutat dengan dunia kampus yang semakin mendewasakan cara berpikir mereka dalam beraktualisasi.

Kemarin, meski suhu di makassar seakan membakar kulit, akan tetapi tidak menyurutkan semangat para Mahasiswa baru (maba) untuk mendaftar ulang di sebuah kampus negeri di kawasan tamalanrea. Beberapa maba ada yang diantar orang tua, kerabat, saudara, atau berkelompok dengan teman-teman mereka. Dari wajah mereka nampak gurat senang, bingung, dan bermacam rasa dihati mereka. Kebingungan mungkin muncul karena ada 1001 macam pertanyaan di benak mereka tentang seperti apa sebenarnya dunia kampus itu???

Diantara kerumunan mahasiswa itu ada juga wajah-wajah lama mahasiswa senior yang gondrong, tua, kucel, (hehee sorry kawan) tapi ada juga sebagian yang lumayan rapi dan berkacamata pantat botol dengan begitu setianya menunggu sang junior 'kesayangan' keluar dari gedung registrasi. Entah apa tujuan mereka...tapi kalo boleh menerka-nerka ya (berdasarkan pengalaman 4 taon di dunia kampus) untuk di giring ke himpunan atau BEM guna 'mengadaptasikan' maba dengan kondisi kehidupan kampus yang begitu memusingkan. Biar nantinya maba tidak kaget dengan beraneka dinamika kampus makanya kata kanda-kanda senior itu maba perlu 'ditempa' dengan 1001 macam bentuk pengkaderan lembaga. Hal ini mereka lakukan sambil main kucing-kucingan dengan pihak birokrat kampus. Betapa tidak, metode pengkaderan dikampus merah tersebut tidak lagi dipegang oleh Lembaga Kemahasiswaan akan tetapi telah beralih ke Para pejabat teras kampus.

Akan tetapi siapa pun yang mendesain metode pengkaderan dikampus, mahasiswa punya misi yang teramat besar bagi kelangsungan negara ini. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk belajar formal, berdiskusi tentang mata kuliah, lulus mata kuliah dengan nilai A+*#, sarjana dengan predikat Cum Laude atau jadi lulusan terbaik dikampus. Selain itu mahasiswa juga punya peran sebagai agen perubahan, sebagai katalis, sebagai kertas lakmus yang mampu mendeteksi setiap perubahan dimasyarakat, yang tetap menjadi pengawas terhadap jalannya roda birokrasi (secara tidak langsung), yang harus peka terhadap ketidakadilan yang mungkin menimpa sebagian besar rakyat kecil di bumi Indonesia bahkan dunia sekalipun.
Karena tonggak dan masa depan sebuah negara bergantung pada kualitas keluaran generasi mudanya yang tetap peduli pada bangsanya.





Kamis, 17 Juli 2008

Kamis, 26 Juni 2008

ANARKEISME???


Sejak pemerintah mengumumkan 'kebijakan' untuk menaikkan BBM beberapa waktu lalu, berbagai respon danreaksi timbul dimasyarakat. Hampir satu suara, mereka menolak 'kebijakan' pemerintah yang tentunya bukanlah suatu keputusan yang bijak. Utamanya dikalangan mahasiswa dan para aktivis kemasyarakatan menyuarakan agar pemerintah membatalkan kenaikan BBM tersebut. Reaksi penolakan itu disampaikan baik melalui media, forum-forum diskusi sampai kepada Demonstrasi yang tak jarang disertai tindakan anarkisme yang berujung bentrokan dengan aparat keamanan.

Seperti aksi mahasiswa yang terjadi kemarin (selasa 24 Juni 2008) didepan gedung DPR RI dan disekitar Semanggi Jakarta, aksi yang dilakukan oleh gabungan mahasiswa dan berbagai organisasi peduli rakyat harus berakhir dengan bentrokan dengan aparat. Tindakan anarkisme yang terjadi kemarin jangan hany dilihat sebagai suatu kebrutalan dan tindakan bar-bar dari kaum intelektual muda. Boleh jadi itu semua adalah akumulasi dan wujud kekecewaan mereka terhadap pemerintah yang selama ini tidak juga mendengar aspirasi dan rintihan rakyatnya.

Lihat saja apa tanggapan pemerintah tentang gejolak yang akan timbul di masyarakat kala menaikkan BBM , mereka mengatakan"paling-paling demonstrasi terjadi cuman 20-30 hari kedepan setelah itu mereka (mahasiswa dkk) akan bosan dan menerima dan masalah ini akan berlalu". Sungguh sangat ironis jika pemerintah beranggapan seperti itu. Lantas ketika rakyat marah, melakukan demonstrasi dan segala macam tindakan represif lainnya Pemerintah justru mengecam dan mengkriminalkan para demonstran. Pemerintah berdalih bahwa Demonstrasi yang dilakukan tidak perlu sampai bentrok, rusuh apalagi sampai merusak . Apa mereka tidak sadar bahwa tindakan spontanitas yang dilakukan mahasiswa, rakyat dkk didepan gedung "WAKIL RAKYAT" justru akibat dari masa bodohnya pemerintah dengan rintihan-rintihan rakyat selama ini. Berbagai cara ditempuh mahasiswa dkk untuk mengkomunikasikan masalah tersebut dengan pemerintah, tapi apa? pemerintah justru menganggap sebelah mata dan tidak merespon sama sekali. Mungkin kejadian di DPR kemarin adalah puncak dari amarah dan kekecewaan Rakyat terhadap pemerintah.

Demonstrasi yang dilakukan mahasiswa dkk dilakukan karena mereka memperjuangkan aspirasi masyarakat karena jangan sampai saudara perempuan mereka terpaksa menjadi pelacur, saudara laki-laki mereka menjadi Kriminal, Orang tua mereka menjadi pengemis dijalanan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yang semakin tak terjangkau dengan adanya Kenaikan BBM. Tidak sadarkah pemerintah dengan banyaknya muncul masalah-masalah sosial seperti Pelacuran, meningkatnya Kriminalitas dan menjamurnya pemukiman2 kumuh di perkotaan justru merupakan akibat oleh banyaknya 'kebijakan' pemerintah yang justru tidak Pro terhadap Rakyat. Ketika masalah itu semua muncul siapa yang dipersalahkan? rakyat? masyarakat? sungguh IRONIS.

Untuk itu selayaknya kita mampu melihat setiap persoalan yang terjadi dari berbagai sisi. Tidak terkecuali Kejadian yang terjadi kemarin di depan DPR RI, kita harus mampu memilah apa yang menjadi pokok permasalahan, yang menjadi sebab musabab terjadinya peristiwa itu. Jangan hanya menyalahkan tindakan represif Rakyat+Mahasiswa dkk yang melakukan demonstrasi, justru yang lebih penting apa yang menyebabkan mereka bertindak represif seperti itu....

Senin, 12 Mei 2008

"Tragedi Mei Berdarah" SEBUAH Apresiasi dan Keprihatinan

Huru-Hara

13 Mei 1998
10 tahun lalu
Terjadi peristiwa yang memiriskan
dan memilukan hati

Jakarta nampak panas
oleh teriknya mentari
Api yang bergolak dan Asap hitam yang pekat
dan Emosi massa yang MEmBarA

Lihat mereka yang tega menjarah
harta sanak saudara,
membakar gedung pertokoan
yang sedang dipadati manusia-manusia tak berdosa
yang dengan keji merenggut keperawanan
wanita-wanita belia

Oh..Tuhan
inikah manusia-manusia Indonesia
Yang berbudi Luhur
bertutur kata santun dan saling menghormati??!
Dimana budaya-budaya itu?

Siapakah gerangan mereka ,
yang tega menyakiti sesama...


Rintihan Idealisme Kampus

Derap langkah kaki para
penerus bangsa
Yang dengan semangatnya berorasi
menentang kesewenang-wenangan Pemerintah
kala itu

Dor,Dor,Dor,Dor
1,2,3,4 jiwa muda mereka
melayang
Diantara Letusan Senapan
sayup-sayup kudengar rintihanmu kawan
mendayu, meraung kesakitan

Hei, siapa kami ini? siapa serdadu itu?
ingat, Kita bangsa Indonesia, Kita saudara
kami bukan pemberontak, kami bukan penjajah
yang harus dilawan dengan bedil dan senjata

Kami hanya Jiwa-jiwa muda, yang sedang
dimabuk IDealisme KAmpus
yang hanya menuntut satu hal yang bernama "REFORMASI"

"mengenang 10 tahun tragedi mei 98"

Kamis, 08 Mei 2008

"Obesitas" BBM

Inna lillahi Wa Inna Ilaihi Rhajiun......!!! Bahan Bakar Minyak naik lagi??!!!Masyarakat bagai dicekik parlahan-lahan dengan kenaikan BBM yang berkesinambungan (meminjam istilah pembangunan Soeharto)
Kita patut berduka atas rencana pemerintah menaikkan harga BBM di negara kita. Bayangkan dengan adanya keputusan pemerintah tersebut, insya Allah rakyat kita akan semakin tercekik oleh karena menanggung biaya hidup yang sangat tinggi. Bayangkan, kenaikan bahan bakar minyak pasti akan memicu kenaikan barang-barang lainnya terutama barang kebutuhan masyarakat yang utama. Entah berapa banyak lagi Daeng Basse-daeng basse lainnya yang bakalan mati kelaparan karena tak mampu membeli seliter beras untuk keluarganya, dengan keputusan pemerintah menaikkan BBM yang berakibat naiknya harga kebutuhan pokok utamanya pangan.
Kenaikan harga BBM ini sebenarnya sebuah dilema bagi pemerintah yang berada diantara dua keputusan yaitu menaikkan harga BBM dengan resiko semakin menderitanya rakyat (bahkan untuk semua lapisan) dan semakin menurunnya popularitas SBY pada PEMILU 2009 nanti (sekedar catatan, kenaikan BBM selama pemerintahan SBY sudah berlangsung 2 kali) dengan tidak mampunya negara mensubsidi BBM karena mengikuti kenaikan harga minyak dunia yang bahkan sudah menembus rekor $120 US per barrel (Metro TV 9 Mei 2008). Memang sebuah keputusan yang sulit bagi seorang pemimpin. tapi apapun itu pemerintah sudah selayaknya mempertimbangkan dengan baik rencana menaikkan harga bahan bakar minyak nasional dengan memikirkan beban rakyat yang semakin berat!
to be continue.......